Marzuki Mustamar. Ketika KH. Kholil As'ad Samsul Bertemu dengan Nabi Khidir. Foto: KH. Kholil As'ad Samsul. KH. Kholil As'ad Samsul merupakan pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Wali Songo yang berlokasi di kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo. Ada salah satu cerita unik mengenai perjumpaan beliau dengan Nabi Khidir semasa masih

Custom ContentTap into Getty Images' global scale, data-driven insights, and network of more than 340,000 creators to create content exclusively for your brand.

Banyakorang yang berdatangan untuk menjenguk Syekh Kholil dan memberi makanan, bahkan sampai banyak orang yang meminta ingin ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut membuat pihak belanda untuk
KH. Kholil Bangkalan, tidak ada satu orang pun di Indonesia yang tidak mengenal beliau. Ulama Kharismatik dari pulau garam Madura yang sangat kesohor sejak jaman kolonial hingga saat ini. Bahkan kuburan beliau di Bangkalan tidak pernah sepi dari pengunjung. Baik pengunjung dari pulau Madura sendiri maupun yang dari luar daerah. Mencermati ketokohan KH Muhammad Kholil, penting kiranya kita mengabadikan kisah-kisah hidup beliau dalam bentuk biografi singkat. Tujuannya tidak lain adalah untuk memperkenalkan sosok ulama NU terkemuka ini kepada generasi-generasi mendatang, supaya namanya tetap harum sepanjang masa. Contents1 Sejarah KH. Kholil A. Masa 1. Lahirnya Muhammad Kholil 2. Silsilah Muhammad Kholil Bernasab Kepada Sunan Gunung B. Masa Menuntut 1. Belajar Ke Pondok 2. Kemandirian Syaikh Khona 3. Cita-Cita Muhammad Kholil Belajar di 4. Saat-Saat Menuntut Ilmu Di 5. Lahirnya Huruf 6. Kembali ke Tanah C. Masa Perjuangan KH Muhammad Kholil Melawan Penjajah2 Karomah KH Muhammad 1. Mampu Membelah 2. Menyembuhkan Orang 3. Kisah Pencuri Timun Tidak Bisa 4. Kisah Ketinggalan Kapal Laut3 Kata Bijak KH Muhammad Kholil Bangkalan A. Masa Kelahiran 1. Lahirnya Muhammad Kholil Kecil KH Kholil lahir di Bangkalan. Ini dia sejarah ringkasnya tentang kelahiran beliau. Tepat pada hari selasa 11 Jumadil Akhir 1253 H atau bertepatan dengan tanggal 27 Januari 1820 M, seorang Kyai salaf yang berasal dari Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan yang bernama Abdul Lathif sedang “bhunga”. Dalam bahasa Indonesia bermakna sedang berbahagia. Hal ini dikarenakan beliau dikaruniai seorang putra laki-laki yang sehat dan gagah. Oleh beliau sang putra di beri nama Muhammad Kholil yang kelak akan menyandang nama besar sebagai Mbah Kholil atau KH Kholil. KH Abdul Lathif sangat menginginkan putranya tersebut menjadi penerus nenek moyangnya yaitu sebagai pemimpin umat. Nadzar ini beliau ungkapkan dalam sebuah doa pasca mengadzani telinga putranya Muhammad Kholil. 2. Silsilah Muhammad Kholil Bernasab Kepada Sunan Gunung Jati Jika dicermati dari aspek historis atau sejarah sesuai yang termaktub pada KH Kholil silsilah yaitu Muhammad Kholil atau KH Kholil Bangkalan Madura bernasab kepada para ulama. Bahkan sang ayah, KH Abdul Lathif masih memiliki hubungan darah degan kanjeng Sunan Gunung Jati. Ayah KH Abdul Lathif atau kakek dari Muhammad Kholil bernama Kyai Hamim. Beliau adalah putra dari seorang ulama bernama Kyai Abdul Karim. Kyai Abdul Karim inilah yang bernasab langsung kepada Sunan Gunung Jati melalui jalur cucunya yang bernama Sayyid Sulaiman. Karena faktor silsilah inilah, KH Abdul Lathif berharap Muhammad Kholil bisa mencontoh jejak Sunan Gunung Jati sebagai pemimpin spiritual umat. Pendidikan yang diberikan ayahnya kepada Muhammad Kholil Kecil sangat ketat. Hasilnya pun sangat luar biasa. Muhammad Kholil atau Mbah Kholil kecil mampu menunjukkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan yang begitu tinggi. Terutama ilmu dalam bidang Fiqh dan Nahwu. Bakat belajar beliau juga sangat luar biasa. Bahkan di usianya yang masih belia, Mbah Kholil sudah mampu menghafal seribu bait ilmu Nahwu yang dikenal dengan mata pelajaran Nazham Alfiyah dari Ibnu Malik. Karena kemampuan dan bakat beliau yang luar biasa itulah, kedua orang tuanya pun memasukkan Mbah Kholil Kecil ke pondok pesantren untuk memperdalam ilmu agama terlebih tentang kaidah ilmu Fiqh dan Nahwu. 1. Belajar Ke Pondok Pesantren Pada tahun 1850, tepatnya pada usia yang ke dua puluh, Muhammad Kholil mulai memasuki pondok pesantren, dan pondok pesantren pertama yang beliau masuki adalah Ponpes Langitan yang diasuh oleh Kyai Muhammad Nur yang lokasinya ada di Tuban Jawa Timur. Selepas dari Ponpes Langitan, beliau mondok di ponpes Cangaan Bangil Pasuruan dan dilanjutkan ke pondok pesantren Keboncandi. Sejak Muhammad Kholil mondok di Ponpes Keboncandi itulah, gairah belajarnya semakin tinggi. Bahkan beliau tidak ragu untuk belajar secara personal kepada salah satu keluarganya sendiri yaitu Kyai Nur Hasan yang ada di daerah Sidogiri. Padahal jarak Sidogiri dari Ponpes Keboncandi sangat jauh, kurang lebih berjarak 7 kilometer. Akan tetapi beliau tetap melakukannya dengan semangat sekalipun harus menempuh jarak nan jauh dengan berjalan kaki. Ternyata, yang menjadi kekuatan beliau ketika berjalan kaki yang cukup jauh dari Keboncandi ke Sidogiri adalah mengkhatamkan Surat Yasin. Salah satu surat Al Quran yang ia baca dari awal perjalanan hingga sampai ke tempat tujuan. 2. Kemandirian Syaikh Khona Kholil Sesungguhnya, Muhammad Kholil tidak perlu melakukan perjalanan bolak-balik dari Keboncandi ke Sidogiri. Karena ia masih bisa menetap di Sidogiri dan tinggal di sana dengan nyaman sembari mengaji kepada Kyai Nur Hasan. Namun, ada alasan kuat yang membuat beliau memilih berjalan kaki setiap hari dari Keboncandi ke Sidogiri, Yaitu untuk belajar kemandirian. Jika beliau memilih berdomisili di Sidogiri tentu biaya yang harus dikeluarkan oleh kedua orang tuanya sangat besar. Sedangkan Muhammad Kholil Kecil tidak ingin membebani orang tua yang beliau hormati dan takdzimi dengan hal tersebut. Sedangkan jika beliau masih tinggal di Keboncandi, beliau masih memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya tanpa bantuan orang tuanya. Karena pada waktu itu, Muhammad Kholil mondok sembari bekerja sebagai buruh batik. Dari pengalaman beliau mondok di beberapa pondok pesantren itulah, banyak sekali ilmu yang beliau dapatkan. Diantaranya adalah mampu membaca Al-Qur’an dengan Qira’at Sab’ah serta hafal Matan Alfiyah atau tata Bahasa Arab. Selain itu, beliau juga seorang penghafal Al Qur’an hingga mendapat gelas hafidz. 3. Cita-Cita Muhammad Kholil Belajar di Mekah Pada suatu waktu, timbul keinginan Muhammad Kholil untuk menuntut ilmu agama di kota Mekah. Karena di masa itu, belajar di kota suci umat islam tersebut merupakan impian seluruh santri. Namun, yang unik dari beliau adalah, beliau ingin mondok di Mekah tanpa harus membebani orang tuanya dengan biaya dan bekal. Untuk merealisasikan impiannya tersebut, Muhammad Kholil pun pergi ke Pondok Pesantren yang cukup populer di daerah Banyuwangi. Alasannya adalah karena pengasuh ponpes tersebut adalah seorang Kyai yang juga memiliki kebun kelapa cukup lebar. Jadi di sana, Muhammad Kholil bisa belajar agama sekaligus bekerja sebagai buruh pemetik kelapa dengan gaji sebesar sen perpohon. Seluruh uang hasil memetik buah kelapa beliau tabung dengan baik dan istiqomah. Sedangkan untuk biaya makan sehari-hari beliau ikut membantu pengasuh mengisi bak mandi, mencuci dan beberapa kali juga menjadi koki untuk kawan-kawan santrinya. Akhirnya tepat pada tahun 1859 Masehi, pasca menikah dengan putri dari Lodra Putih yang bernama Nyai Asik, beliau pun berangkat ke Mekah untuk menuntut ilmu di sana dengan biaya dari tabungan sendiri. Di Mekah, Muhammad Kholil belajar kepada Syekh atau tuan guru yang memang memiliki kapasitas ilmu cukup mumpuni. Berikut beberapa rilis guru-guru beliau yang masyhur yaitu Syeikh Nawawi Al-Bantani Guru Ulama Indonesia dari Banten. Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Namun, studi sanad hadist, KH Kholil Bangkalan belajar kepada ulama terkemuka Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi yang keduanya merupakan guru besar Mekah yang berasal dari Indonesia tepatnya dari kota Bima Sumbawa Indonesia. Di kala itu, para guru di Mekah sudah multi mahdzab. Apalagi yang mengajar di Masjidil Haram. Sehingga Muhammad Kholil juga belajar tentang perbandingan mahdzab kepada para gurunya di atas. Walaupun begitu, Muhammad Kholil atau Mbah kholil lebih condong kepada mahdzab Syafi’i sehingga guru yang ia jadikan rujukan lebih banyak dari kalangan syafi’iyah. Mbah Kholil menuntut ilmu di Mekah seangkatan dengan para ulama besar di indonesia seperti Syeikh Nawawi Al-Bantani Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadani Luar biasanya, diantara teman-teman yang tenar diatas, Mbah Kholil cukup disegani. Bahkan beliau dituakan dan dimuliakan. 5. Lahirnya Huruf Pegon Huruf Pegon pertama kali muncul dimulai dari kreativitas Muhammad Kholil beserta dua rekannya yaitu Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Syeikh Shaleh As-Samarani Semarang. Kreatifitas itu muncul di Mekah, kabarnya mendapatkan ilham untuk mengarang kaidah tanda aksara tersebut. Huruf Pegon sendiri merupakan tulisan Arab yang diadopsikan ke dalam bahasa Jawa jawi. Bahkan beberapa di antaranya juga diserap ke dalam bahasa Madura dan Sunda. Akhirnya setelah beberapa tahun mengenyam pendidikan di Mekah, Mbah Kholil kembali ke tanah air dengan segudang ilmu diantaranya adalah menjadi pakar Nahwu, Fiqh, Ilmu Tariqat dan yang lainnya. Bukan itu saja, demi perkembangan islam di nusantara, Muhammad Kholil atau Mbah Kholil ikut membangun pondok pesantren yang terletak di desa Cengkebuan yang berdekatan dengan tanah kelahirannya yaitu Bangkalan Madura. 6. Kembali ke Tanah Air Pasca mendirikan pondok pesantren di Cengkuban, pamor KH Muhammad Kholil sebagai tokoh ulama kharismatik semakin kuat. Bahkan, semakin hari, santri yang mondok di ponpes tersebut terus bertambah yang sebagian besar berasal dari daerah sekitar Madura. Akan tetapi pasca putri beliau yang bernama Siti Khatimah menikah dengan sang keponakan yaitu Kyai Muntaha, pondok pesantren pun diberikan kepada sang menantu untuk diurus dengan baik. Sedangkan KH Muhammad Kholil sendiri membangun pesantren baru yang berada di kota Bangkalan. Tepatnya di daerah Kademangan, 200 meter ke arah barat alun-alun Bangkalan. Pesantren yang baru ini hanya berjarak 1 kilo meter saja dari pesantren yang lama. Sama dengan pondok pesantren yang lama, Ponpes yang baru ini, perkembangannya juga sangat cepat. Bahkan, santri yang mondok tidak hanya dari daerah Bangkalan dan Madura saja tetapi juga ada yang dari seberang Pulau Jawa. Menurut Sejarahnya di masa inilah, KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama dari Jombang ikut mondok di pesantren KH Muhammad Kholil. Intinya, sejak KH Muhammad Kholil kembali ke tanah air, beliau benar-benar menjadi ulama yang luar biasa. Selain dianggap pakar ilmu Fiqh dan Nahwu Shorrof, beliau juga dianggap memiliki waskita atau karomah yang luar biasa. C. Masa Perjuangan KH Muhammad Kholil Melawan Penjajah KH Muhammad Kholil merupakan ulama sekaligus patriot bangsa. Bahkan beliau ikut berjuang untuk meruntuhkan kekuasan kolonial di bumi nusantara. Sekalipun metode yang beliau gunakan tidak secara langsung dengan agresi bersenjata tetapi dengan kekuatan di balik layar. Langkah pertama perjuangan KH Muhammad Kholil adalah melalui pendidikan. Di bidang ini, beliau tidak pernah putus asa menggembleng para santrinya untuk menjadi pemimpin bangsa yang tangguh dan berkualitas. Usaha beliau akhirnya berhasil dengan banyaknya pemimpin umat yang luar biasa, adil, berintegritas serta berani memperjuangkan kebenaran. Bahkan dari tangannyalah pendiri pesantren Tebu Ireng Hasyim Asyari dilahirkan. Langkah perlawanan KH Muhammad Kholil yang kedua adalah melalui transfer ilmu kanuragan. Bahkan beliau tidak segan membekali para santrinya tenaga dalam agar bisa ikut berjuang melawan penjajah di medan perang. Bahkan di beberapa peristiwa perjuangan, pondok pesantren KH Muhammad Kholil dijadikan tempat persembunyian para laskar. Karena hal itulah beberapa kali KH Muhammad Kholil di penjara oleh penjajah. Usaha KH Muhammad Kholil dalam mencetak putra terbaik bangsa memang patut diteladani. Bahkan di antara mereka ada yang terkenal sebagai ulama kharismatik yang tetap populer sampai saat ini, seperti KH. Hasyim Asy’ari pengasas Nahdlatul Ulama/NU KH. Abdul Wahab Chasbullah pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang KH. Bisri Syansuri pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang KH. Ma’shum pendiri Pondok Pesantren Lasem, Rembang KH. Bisri Mustofa pendiri Pondok Pesantren Rembang, KH. As’ad Syamsul `Arifin pengasuh Pondok Pesantren Asembagus, Situbondo. Karomah KH Muhammad Kholil Karomah memiliki arti Mulia. Sedangkan definisi berbeda diungkapkan oleh Syeikh Thahir bin Shaleh Al-Jazairi, ulama pengarang kitab Jawahirul Kalamiyah. Menurut beliau makna karomah adalah peristiwa luar biasa yang muncul karena sosok kewalian seorang manusia. Namun standar karomah ini tidak seperti mukjizat pada nabi dan rosul. KH Muhammad Kholil juga memiliki karomah diantaranya adalah 1. Mampu Membelah Diri Ilmu kanuragan KH Muhammad Kholil sangat luar biasa. Bahkan beliau mampu “mecah raga” atau membelah diri. Dengan kemampuannya tersebut, beliau mampu tinggal di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan. Pernah pada suatu waktu beliau mengajar sekaligus sedang menolong orang yang perahunya pecah. Para santri keheranan karena busana beliau basah kuyup. Baru satu bulan kemudian, para santri mengetahui penyebab basahnya busana beliau manakala nelayan yang ditolong tersebut mengucapkan terima kasih kepada KH Muhammad Kholil. 2. Menyembuhkan Orang Lumpuh Salah satu murid KH Muhammad Kholil Bangkalan menulis buku yang berjudul “Tindak Lampah Romo Yai Syeikh Ahmad Jauhari Umar”. Di dalam buku tersebut, si penulis yaitu Syeikh Ahmad Jauhari Umar sendiri menyatakan kalau guru beliau KH Muhammad Kholil Bangkalan merupakan sosok ulama yang memiliki karomah luar biasa. Menurutnya, KH Muhammad Kholil pernah menyembuhkan orang lumpuh seketika dengan cara yang unik. Kebetulan orang tersebut adalah keturunan Cina. Karena berbagai pengobatan tidak mempan, akhirnya dia dibawa ke Bangkalan untuk berobat ke KH Muhammad Kholil. Namun tak dinyana, ketika si sakit ini baru sampai di halaman rumah beliau, KH Muhammad Kholil langsung keluar dengan menghunus pedang. Akhirnya si sakit pun lari ketakutan. Anehnya akibat rasa takut itulah, penyakitnya menjadi sembuh. 3. Kisah Pencuri Timun Tidak Bisa Duduk Pada suatu waktu, ada peristiwa di mana para petani khususnya petani Bangkalan mengeluh. Sebabnya, hasil panen mentimun mereka mengalami kerugian akibat banyak diambil oleh pencuri. Karena kasus ini terus terjadi, akhirnya para petani ini pun sowan ke KH Muhammad Kholil Bangkalan. Akhirnya mereka diberikan doa-doa penangkal supaya pencuri tidak lagi mengganggu hasil panen mereka. Keesokan harinya ketika semua petani pergi ke sawah, terlihat pemandangan mengejutkan. Semua pencuri timun yang meresahkan tersebut, terlihat berdiri di sawah-sawah mereka dengan wajah ketakutan. Mereka tidak bisa duduk dan akan merasa kesakitan jika akan duduk. Akhirnya pencuri timun tersebut bisa ditangkap oleh warga. Petani tersebut akhirnya bisa duduk kembali ketika dibawa ke hadapan KH Muhammad Kholil. Mereka pun disembuhkan oleh beliau dengan syarat tidak akan mengulangi perbuatannya melakukan pencurian hasil panen milik warga. 4. Kisah Ketinggalan Kapal Laut Kisah karomah KH Muhammad Kholil yang lainnya adalah cerita ketinggalan kapal laut. Peristiwa ini terjadi saat musim haji. Yang mana di kala itu, transportasi ke Mekah hanya menggunakan kapal laut. Ketika kapal sudah bersiap untuk berangkat, tiba-tiba ada penumpang perempuan yang berpesan kepada suaminya agar dibelikan buah anggur. Karena si suami merasa kasihan akhirnya dia turun dari kapal untuk membeli buah tersebut. Karena sulitnya menemukan buah anggur, akhirnya pencarian si suami memakan waktu cukup lama. Baru ketika menemukan sebuah pasar yang cukup besar, dia bisa mendapatkan buah pesanan istrinya dan dia pun kembali ke kapal untuk menemui istrinya. Sayang ketika si suami sampai di pelabuhan, ternyata kapal yang ditumpangi sang istri sudah berangkat. Akhirnya atas usulan beberapa orang, dia pun pergi menemui KH Muhammad Kholil. Dengan karomah beliau, si suami yang ketinggalan kapal ini bisa langsung berada di atas kapal tanpa orang disekelilingnya menyadari. Seakan tidak ada peristiwa luar biasa yang sedang terjadi. Itulah Karomah dari ulama kharismatik Madura KH. Muhammad Kholil Bangkalan yang terus dikenang hingga beliau, KH Kholil Bangkalan wafat berpulang ke Rahmatullah. Kata Bijak KH Muhammad Kholil Bangkalan Setelah mengetahui sejarah dan karomah KH Muhammad Kholil Bangkalan, berikut kami juga rilis beberapa kata bijak beliau yang bisa dijadikan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan yang baik, yaitu Dalam menuntut ilmu kita harus melakukan perilaku prihatin, tidak bermewah-mewahan dan menyia-nyiakan waktu. Beragam cara guru dalam mendidik santrinya agar menjadi santri yang sukses dalam meraih ilmu yang bermanfaat Perintah seorang guru harus kita patuhi selagi masih dalam koridor yang tidak bertentangan dengan syariat Ketika di pesantren kita harus berusaha untuk tidak membebani orang tua dan mengecewakan atas jerih payahnya mengongkosi kita saat di pesantren. Sikap tawadhu’ dan kehidupan sederhana harus kita jalani, baik kita saat di pesantren maupun saat berada di rumah. Dalam hidup bermasyarakat kita harus bisa mengayomi masyarakat dan membantu atas kesusahan dan keluhan mereka. Itulah sejarah, karomah dan kata bijak KH Kholil. Semoga artikel ini bisa menjadi pengetahuan kita bersama, bahwa pernah lahir seorang ulama besar kharismatik Indonesia asal pulau Garam Madura dengan berbagai kearifan dan kerendahan hatinya. Semoga bisa memotivasi untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Taala. BerikutSebagian Murid Dari Syaichona Kholil Bangkalan Madura : 1. KH. Hasyim Asy'ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional. 2. KHR. As'ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi
Apakah Anda mencari gambar tentang Foto Kh Kholil As Ad? Terdapat 48 Koleksi Gambar berkaitan dengan Foto Kh Kholil As Ad, File yang di unggah terdiri dari berbagai macam ukuran dan cocok digunakan untuk Desktop PC, Tablet, Ipad, Iphone, Android dan Lainnya. Silahkan lihat koleksi gambar lainnya dibawah ini untuk menemukan gambar yang sesuai dengan kebutuhan anda. Lisensi GambarGambar bebas untuk digunakan digunakan secara komersil dan diperlukan atribusi dan retribusi.
Beliauadalah putra ketiga dari 11 bersaudara, anak dari pasangan Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah. KH Hasyim Asy'ari merupakan campuran dua darah atau trah, yaitu darah biru (ningrat, priyayi, keraton), dan darah putih (kalangan tokoh agama, kiai, santri). Namanya tidak dapat dipisahkan dari riwayat Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Demak. Biografi-Beliau, sebatas yang kutahu, Lahir di Situbondo, putra Bungsu Almarhum KHR. As’ad Syamsul Arifin Sang Mediator Nahdlatul ulama, Nama beliau ” Muhammad Kholil ” Nama tersebut diberikan oleh Kiai As’ad Ayahandanya tafa’ulan kepada gurunya yakni ” Syeikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan ” kira kira umur 15 tahun beliau di modokkan ke Makkah ke Syeikh Ismail Alyamani Almakki yg masih teman kiai As’ad, atas saran Kiai Sarkaman, Namun sebelum itu sebenarnya Kiai Kholil muda, sudah di minta oleh Syeikh Ismail ke Kiai As’ad ketika sebelum Munas NU di Situbondo. Sebelum mondok ke Makkah, Kiai Kholil Muda, Belajar kepada beberapa santri nya kiai As’ad, Belajar Nahwu Sharrofya yang kutahu pada Ustadz Zainal Abidin, dll, sedangkan ngaji tasawwufnya pada KH. Sufyan Miftahul Arifin terkadang juga ditemani kakaknya Yaitu Almarhum KHR. Ahmad Fawaid As’ad karna beliau Yai Fawaid juga ngaji ke kiai Sufyan. Beliau Masuk Jama’ah Dizikir thoriqoh An Naqsyabandiyah Al ahmadiyyah sekitar umur 11 tahun pada kiai Sufyan Miftah, mungkin ketika itu diantara para Jama’ah yg lain beliau yang termuda, Namanya anak muda, Lora Kholil Muda masih tidak lepas dari kenakalannya bersama teman – temannya, makanya terus di jaga oleh KH. Zubairi dan KH. Ahmad Sufyan Miftah kala itu, Diantara Guru Beliau yg saya tahu, yang banyak mempengaruhi pribadinya beliau adalah, KH. Muhammad bin Imam Pamekasan Madura, KH. Sufyan Miftahul Arifin dalam perjuangannya, dan Syeikh Ismail Alyamani Almakki dan juga Ayahandanya sendiri . Kira – kira tahun 1992 beliau pulang ke indonesia, dan mendirikan pondok pesantren, yg diberi nama ” Pondok Pesantren Walisongo ” adanya pondok tersebut, jauh sebelumnya kiai As’ad Ayahandanya pernah berdawuh, ketika pulang dari pengajian NU di Situbondo, sampai di selatan komplek pondok yg mana ketika itu masih ” persawahan ” Dawuhnya ” ,Suatu saat nanti saya akan punya pondok disini, padahal ketika itu Lora Kholil masih belum lahir “Memang betul ” Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ” Kiai As’ad yg dikenal pawangnya bajingan dan preman, begitu juga dengan kiai Kholil As’ad, banyak juga bajingan, maling, perampok, anak jalanan takluk ditangannya atas kuasa Ilahi dan akhirnya bertaubat ini fakta, semoga taufiq selalu menyertainya. Beliau yang saya tau juga termasuk kiai nyentrik, Bisa juga dibilang ” Budayawan ” beliau mengagumi sekali ” pencak silat ” makanya beliau termasuk salah satu” Dewan Khos Pagar Nusa Pusat ” Juga pesyair, banyak sekali syair syair yg dikarang oleh beliau, bahkan mungkin sudah ribuan bait dan ratusan lagu, tentang Cinta Baginda Nabi, Waliyullah, Ulama’ bahkan syair – syair kebangsaan. Ciri khas dari disela sela ceramah beliau yang selalu ku ingat, pasti selalu ada kalimat ” Allahumma Sholli Alaa Muhammad ” Beliau juga pernah berdawuh pada kami ” Apapun tanpa Kanjeng Nabi akan hambar “. SumberHalaman Facebook Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Stibondo - adalah portal media Jawa Timuran yang berada di bawah naungan PT Hasini Makmur Media.
Setelahdari Sukerejo, Kabupaten Pasuruan, Zulhas dan rombongan bergerak ke Ponpes Walisongo. Di lokasi, ia disambut KH Kholil As'ad Syamsul Arifin. Disaksikan para pengasuh dan awak media, Zulhas kembali berdiskusi tentang politik jalan tengah kepada Kiai Kholil. "PAN ini meneruskan cita-cita pendiri bangsa, maka karakternya berdiri di tengah.
Foto KH. Kholil As'ad Samsul KH. Kholil As’ad Samsul merupakan pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Wali Songo yang berlokasi di kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo. Ada salah satu cerita unik mengenai perjumpaan beliau dengan Nabi Khidir semasa masih menuntut ilmu kepada Syeihk Ismail Al-Yamani Al-Makki di Kota Makkah Al Mukarromah. Perintah dari Syekh Ismail Suatu saat beliau mendapatkan perintah dari Syekh Ismail untuk melaksanakan Ibadah Umrah sekaligus bertemu dengan orang yang tidak dikenalinya, namun memiliki ciri-ciri yang telah disebutkan oleh gurunya. Sebelum berangkat Umrah, akhirnya KH. Kholil pun berangkat melaksanakan perintah gurunya tersebut. Baca juga Skenario Tuhan Singkat cerita, setelah KH. Kholil selesai melakukan tawaf mengitari Ka’bah dan melaksanakan berbagai macam salat sunnah, beliau pun merasa lelah lalu memutuskan untuk duduk sejenak sambil menghadap ke Ka’bah. Awal Mula Perjumpaan dengan Nabi Khidir Tiba-tiba ada seseorang laki-laki yang duduk di samping beliau dengan posisi kaki terselonjor ke arah Ka’bah. “Sungguh tidak sopan sekali orang ini berselonjor di rumah Allah Swt,” celetuk KH. Kholil di dalam hatinya. Seketika itu juga, orang yang berada di sampingnya tersebut mengatakan semua yang diketahui tentang tujuan, alasan ia berada di sini, sebab diperintah Syekh Ismail termasuk celetukan yang baru saja ia katakana di dalam hatinya tersebut. Baca juga Apa yang Ditimba Gus Dur dari Kiai Ali Maksum Krapyak? Sontak, KH. Kholil pun kaget karena tidak menyangka apa yang dikatakan orang tersebut kepadanya. KH. Kholil pun langsung bersalaman kepada beliau. Dari sinilah beliau tahu bahwa orang tersebut adalah Nabi Khidir. Read Next 1 minggu ago Konsep Penciptaan Perempuan Pertama dalam Al-Qur’an 1 minggu ago Pengaruh Qashas Al-Quran dalam Pendidikan 2 minggu ago Keromantisan Hidup Bersama Al Qur’an 4 minggu ago Pubertas dalam Beragama Maret 19, 2023 Menjelang Bulan Ramadhan, Persiapkan berikut ini Februari 23, 2023 Memahami Bahasa Santri dengan Teori Humanistik Februari 22, 2023 Siapakah Musuh Terbesar Manusia? Februari 22, 2023 Nashoihul Ibad Mutiara Hikmah dari Ulama Banten Februari 14, 2023 Berpetakumpet dengan Tuhan
Cak Imin mengungkapkan sebenarnya ia sudah diperintahkan untuk mendampingi Anies Baswedan sejak dua tahun lalu pada 2021. Kala itu, ia menceritakan dipanggil oleh putra tokoh NU KH As'ad
Pojoksuramadu.com, Biografi-Beliau, sebatas yang kutahu, Lahir di Situbondo, putra Bungsu Almarhum KHR. As'ad Syamsul Arifin Sang Mediator Nahdlatul.
Asad Syamsul Arifin Situbondo. Diantara murid-murid Kyai Hasyim Asy'ari adalah Kyai Manaf Abdul Karim Lirboyo, Kyai Jazuli Ploso, Kyai Zuber Salatiga, KH. Wahid Hasyim, KH. Achmad Shidiq, KH. Dahlan Kudus dan masih banyak Kiai Kiai yang lain. Dari kedua ulama ini yaitu KH. Kholil Bangkalan dan KH. Hasyim Asy'ari munculah ulama-ulama
KH Sofyan (Foto: youtube.com) KH Sofyan NU dan Tarekat. Posted by: Abdul Moqsith Ghazali 17/04/2012 4,670 Views. 4.33/5 (3) Kiai Fawaid As'ad (Pengasuh PP Sukorejo) dan Kiai Kholil As'ad (Pengasuh PP Walisongo), pernah mengaji sejumlah kitab kepada Kiai Sofyan. .
  • 6m4bpy9r4n.pages.dev/369
  • 6m4bpy9r4n.pages.dev/168
  • 6m4bpy9r4n.pages.dev/192
  • 6m4bpy9r4n.pages.dev/416
  • 6m4bpy9r4n.pages.dev/221
  • 6m4bpy9r4n.pages.dev/213
  • 6m4bpy9r4n.pages.dev/184
  • 6m4bpy9r4n.pages.dev/256
  • foto kh kholil as ad